Ditolak 35 Perusahaan, Pria Ini Sukses Rintis Bisnis Rp 13 T

Ini kisah tentang semangat yang tak pernah kendur. Lamaran kerja ditolak oleh 35 perusahaan, termasuk perusahaan impian, seorang pria justru membangun perusahaan rintisan (star up) dan sukses terjual US$1 miliar, setara Rp 13 triliun.



Adalah Dan Kan, seorang Co-Founder Cruise Automation,. Dia punya pengalaman pahit dalam kariernya.

Kisah inspiratif ini bermula saat Kan lulus kuliah dari Claremont McKenna College. Dia pun mengirimkan lamaran ke 35 perusahaan. Harapan tinggal mimpi saat surat lamaran Kan hanya direspon dua perusahaan. Semua perusahaan impiannya menolak. 

" Saya ingat jelas ketika saya lulus, saya akan bekerja di bidang keuangan. Saya bayangkan 'Oh inilah jalannya. Semua orang masuk ke industri keuangan dan membuat banyak uang'," kata Kan, saat diwawancarai Entrepreneur, dilansir dari Entrepreneur, Kamis 19 Mei 2016.

Dengan tangan penuh penolakan di industri keuangan, Kan memiliki dua peluang. Mengajar Bahasa Inggris di Korea atau bekerja di sebuah startup bernama UserVoice di San Francisco. UserVoice adalah sebuah platform yang membantu perusahaan mengumpulkan umpan balik pengguna.

" Saya memilih startup," kata Kan.Siapa sangka, jalan yang dipilih Kan menuntunnya menjadi seorang hartawan. Tujuh tahun membangun di perusahaan kecil ini dimana dia menjadi salah satu pendiri Cruise Automation, Kan mendapat untung besar. Startup-nya dibeli General Motors pada Maret lalu sebesar US$1 miliar, sekitar Rp 13 triliun dalam bentuk tunai dan saham.

Jadi bagaimana lulusan perguruan tinggi yang ingin masuk industri keuangan ini, menjadi pendiri salah satu startup terpanas di Silicon Valley?

Jawabannya mungkin sedikit keberuntungan, koneksi yang tepat, berani mengambil risiko dengan penuh perencanaan dan sikap tak mau menyerah.

Kan dibesarkan di sebuah keluarga wirausaha. Ibunya memulai usaha real estate dan broker sendiri di Seattle pada 1990-an. Saat itu, Kan adalah seorang anak berusia sekitar 10 tahun, sebelum Google Maps muncul.

Untuk membantu bisnis ibunya, Kan dan saudara-saudaranya akan memindai dan membuat foto kopi dari buku-buku peta besar, menggabungkannya dan membuatkan rute umah untuk ibunya.

Saudara Kan, Justin, juga seorang entrepreneur. Dia kembali ke San Francisco setelah lulus kuliah dan mendirikan platform video online Justin.tv pada 2006 yang kemudian berubah menjadi Twitch.

Di sepanjang hidupnya, Kan menganggap keluarganya sebagai sumber inspirasi dan dukungan. Bahkan sekarang setelah menjadi jutawan, Kan tetap tinggal bersama saudaranya.

" Saya tidak akan berada di sini tanpa saudara saya atau orang lain di Twitch. Itu mungkin hal yang paling penting. Bukan hanya memiliki ide atau mengeksekusi ide - ini semua tentang hubungan yang Anda miliki dan orang-orang yang Anda kenal dan yang mendukung Anda,” kata dia.

Bukan yang Pertama

Bagi pria berusia 29 tahun ini, jaringan dukungan akan membantu seseorang memulai sebuah startup. Tetapi Anda tidak akan bisa membangun startup bernilai miliaran dolar tanpa punya tekad serius. Untungnya Kan adalah orang yang gigih, bahkan ulet.

" Kan memiliki keberanian yang begitu penting agar sebuah startup menjadi sukses. Orang-orang berpikir startup sebagai bisnis berisiko, itu karena dalam diri mereka ada perasaan takut gagal. 

Namun Kan selalu mengatakan 'Bagaimana jika?' untuk menantang setiap orang untuk membuat pencapaian yang lebih tinggi," kata seorang partnernya di Capital Spark, Nabeel Hyatt.
Setelah beberapa tahun di UserVoice dan didorong oleh kakaknya, Kan memulai startupnya sendiri beberapa kali.

Pertama, pada tahun 2011, Kan meluncurkan Appetizely, sebuah perusahaan yang membuat berbagai macam aplikasi restoran berbasis iOS. Kan berhasil membuat sekitar 30 aplikasi sebelum Apple meminta Appetizely menggabungkan semua aplikasi tersebut ke dalam satu kesatuan.

Kan merasa jika dia tidak membuat aplikasi yang berbeda untuk setiap restoran, maka itu menjadi tidak menarik lagi bagi restoran. Hanya beberapa bulan setelah peluncurannya, Kan menutup Appetizely.

Akhir tahun itu juga, Kan meluncurkan Exec, layanan pribadi on-demand. Pelanggan hampir selalu menggunakan aplikasi Exec untuk pekerjaan rumah tangga. Seperti mencuci piring, membersihkan kolam, mencuci pakaian dan sebagainya.

" Kami memulainya sebagai sebuah layanan yang akan memungkinkan Anda untuk melakukan apa saja. Dengan menekan sebuah tombol, Anda akan memiliki seseorang yang menjalankan tugas atau mencuci pakaian atau apa pun," kata Kan.

Kan pun menyebut lama-lama bisnis Exec menjadi bisnis bersih-bersih rumah. “ Bagi saya, itu bukan yang benar-benar saya sukai,” kata dia.

Pada tahun 2014, ia menjual startup tersebut kepada perusahaan jasa Handy yang berbasis di San Francisco.

Setelah menjual Exec, Kan mencari langkah berikutnya. Dia kenal Kyle Vogt selama bertahun-tahun karena Vogt adalah bagian dari tim Justin.tv dan Twitch yang didirikan Justin Kan. Selama musim panas berikutnya, Kan magang di perusahaan saudaranya.

Vogt terobsesi dengan konsep swa-kemudi sejak ia masih remaja. " Ini adalah gairah yang sebenarnya," kata Kan, yang sangat senang konsep swa-kemudinya mendapat sambutan dari teman-temannya. Maka pada tahun 2014, Vogt bergabung dengan Kan untuk mendirikan Cruise Automation.

Sumber : https://www.dream.co.id/dinar/miliarder-muda-ini-pernah-ditolak-oleh-35-lowongan-pekerjaan-1605188/bukan-yang-pertama-ks7.html

Diledek Takkan Sukses, Mantan Santri Bungkam Pencibir

Dia berhasil membalikkan anggapan sinis masyarakat terhadap santri.

Bagi masyarakat, santri kerap dipandang sebelah mata. Banyak yang beranggapan mereka tidak akan sukses dalam berbisnis kalau bulan lulusan universitas.



Anggapan ini pun dipatahkan oleh seorang mantan santri asal Malaysia, Muhammad Nur Aiman Basuni. Lulusan pesantren ini berhasil membuktikan bahwa seorang santri bisa menjadi seorang pengusaha yang sukses pada usia 24 tahun.

Dilansir dari Siakap Keli, Senin 27 Februari 2017, kisah ini berawal ketika dia menjadi murid pesantren pada usia 14 tahun dan delapan tahun menghabiskan waktu di sana untuk belajar agama.

Ada teman-temannya yang sinis dan menganggap seorang santri tidak akan sukses kalau dia tidak menempuh pendidikan tinggi.

“ Saya tertantang dengan kata-kata itu. Saya nekat untuk membuktikan bahwa kata-kata mereka itu salah,” kata Aiman.

Selulusnya dari pondok pesantren, pada usia 22 tahun, Aiman pun mengikuti program pendidikan untuk mendapatkan ijazah. Hasilnya, dia mendapatkan nilai yang bagus. Namun, Aiman pun melupakan niatnya untuk melanjutkan pendidikan karena ingin membantu keluarganya.

“ Saya ingin membantu keluarga menjalankan restoran yang berkonsep makanan kampung,” kata dia.

Aiman pun belajar bisnis restoran sebelum mendirikan restoran sendiri yang dinamainya Bason. Kini, restorannya sendiri punya 1.000 pengunjung setiap hari. Restoran ini terkenal sebagai rumah makan yang menyediakan makanan dengan menu yang unik.

 Menu restoran Bason
Menu makanan yang dijual oleh Restoran " Bason" .

Lalu, apa rahasianya?

Ada enam hal yang harus dipegang teguh oleh Aiman ketika berbisnis, yaitu doa, impian, tidak mudah patah arang, tidak berada di zona nyaman, punya ilmu, dan action.

“ Untuk menjadi yang terbaik, jangan mudah puas. Kunci kesuksesan adalah jangan merasa sudah sukses,” kata dia.

Aiman juga mengatakan ilmu juga hal penting yang harus dimiliki. “ Yang membedakan seseorang dengan orang lain adalah ilmu,” kata dia.

Sumber : https://www.dream.co.id/orbit/kisah-sukses-mantan-santri-jadi-pengusaha-restoran-170224t.html

Ditolak 100 Pabrik, Kini Sukses Jadi Miliarder Sepatu Lipat

Inilah contoh wanita bermental baja. Dia bernama Janan Leo dan seorang pembuat bisnis unik, yaitu sepatu wanita. Tak seperti sepatu lainnya, flat shoes buatannya bisa dilipat.

Kini bisnis sepatu yang dirintisnya sudah bisa mencetak pendapatan hingga 1 juta poundsterling atau Rp16,54 miliar per tahun. Padahal, saat mulai merintis, Kanan sempat ditolak hingga 100 pabrik. Mereka tak mau membantu produksi sepatunya.



Dilansir dari Daily Mail, Sabtu 7 Januari 2017, kisah ini bermula dari Janan yang melihat wanita yang tidak mau berkompromi soal penampilan. Pada tahun 2007, ide bisnis ini tercetus ketika dia menjadi seorang penglaju. Sebagai seorang penglaju, tentu tidak nyaman untuk mengenakan high heels sepanjang perjalanan ke kantor.

“ Saya tidak mempermasalahkan padatnya jam sibuk. Tapi, jam sibuk menjadi tidak nyaman dengan sepatu berhak tinggi. Ini yang membuat saya untuk membuat solusinya,” kata dia di London, Inggris. 

Janan pun merintis bisnis usaha sepatu wanita yang solnya bisa dilipat sehingga bisa dimasukkan ke dalam tas dan memudahkan untuk menggantinya dengan high heels di kantor. Sepatunya ini diberi nama “ Cocorose” dan dibuat pada 2007.

Ditolak 100 Pabrik

Namun, pegawai Virgin Trains ini menyebut usahanya ini tidak mudah. Dia sempat ditolak 100 perusahaan terkait konsep bisnis yang ditawarkan. Setelah ditolak 100 pabrik sepatu, akhirnya ada yang bersedia memproduksi sepatu yang bisa ditekuk itu.

“ Saya menawarkan kepada perusahaan sepatu di seluruh dunia untuk menerima konsep sepatu saya. Ketika mereka menolak, (saya berprinsip), ada keinginan, tentu ada jalan,” kata dia.

Wanita yang kini masih bekerja sebagai manajer pengembangan produk baru di Virgin Trains, akan mengembangkan bisnisnya menjadi lebih maju. “ Itu yang terpenting bagi saya. Saya membutuhkan dukungan bagi diri saya sendiri dan merawat Cocorose,” kata dia.

Dipakai Saudara Putri Inggris

Janan mengatakan perlu waktu 1 tahun untuk mematangkan bisnis dia. Pada tahun 2008, sepatu Cocorose pun dirilis. Lalu, dia membeli satu kios di Brick Lane, London Timur. Tujuannya adalah bisa berhubungan dengan konsumen potensial dan memperkenalkan brand yang dimilikinya. Lalu, pada tahun 2010, Janan resign dan menjadi seorang pebisnis seutuhnya.

Rekan bisnisnya, Gareth Austin-Jones, dan Cocorose, membawa bisnis sepatu lipat ini lebih tinggi. Sepatu Cocorose kini didistribusikan di 30 negara dan membukukan omzet sebesar 1 juta poundsterling atau Rp16,54 miliar.

Sepatunya kini sudah dipakai oleh tokoh terkenal seperti Pippa Middleton. Kini, dia berencana ingin mengembangkan bisnisnya ke bisnis sepatu sneaker lipat, sandal, dan boots.

“ Menjadi suatu kehormatan didapuk sebagai pembuat sepatu lipat, sebuah kategori baru di pasar alas kaki global,” kata Janan.

Sumber : https://www.dream.co.id/dinar/ditolak-100-pabrik-wanita-ini-sukses-jadi-jutawan-sepatu-1701063/cetak-omzet-fantastis-14h.html

Albaik, Ayam Goreng Tersohor yang Lahir dari Gudang

Ketika mendengar restoran ayam goreng cepat saji, mungkin yang pertama kali terlintas dalam pikiran adalah McDonalds (McD) atau Kentucky Fried Chicken (KFC). Tapi, di Arab Saudi, pamor dua restoran ini masih kalah dengan restoran ayam goreng lokal, Albaik.



Restoran ini pada dasarnya sama dengan restoran ayam goreng lainnya. Bedanya, ayam yang disajikan lebih beraroma dan porsinya lebih jumbo.

Sahabat Dream, restoran yang beken di Arab Saudi ini semula bukan bernama Albaik. Restoran ini awalnya berdiri di sebuah gudang tua.

Ide bisnis ini muncul dari seorang pria bernama Shakour Abu Ghazalah. Dia mendirikan bisnis restoran ayam goreng cepat saji bernama Broast Restaurant.

Shakour sadar masyarakat butuh makanan berkualitas dengan harga bersahabat serta disajikan dengan cepat di tempat yang bersih dan nyaman. Pria ini pun membuka usaha restorannya di daerah Sharafiyah, Jeddah, Arab Saudi, pada September 1974.

Dua tahun berikutnya, Shakour membuka cabang pertama Broast Restaurant di Al Dakheel Building. Sayangnya, lima bulan setelah cabang itu beroperasi, pria tersebut menghembuskan napas terakhir pada usia 48 tahun.

Dia meninggal karena sakit kanker. Usaha ini pun dilanjutkan oleh anaknya, Ihsan Abu Ghazalah, yang baru saja lulus kuliah.

“ Tekad, ketekunan, dan kerja kerasnya menjadi inspirasi yang telah mendorong keberhasilan kami. Semua orang mencintai ayah kami. Dia orang yang menyenangkan dan rendah hati. Pria yang luar biasa,” kata Ihsan.

Bisnis di Ujung Tanduk

Perjalanan Broast Restaurant tak semulus jalan tol. Bisnis ini sempat mengalami kebangkrutan dan membuat Ihsan kelimpungan. Dia sampai kehilangan hak agen dan memulai bisnis dari awal.
“ Kami harus melikuidasi aset, membayar utang, merampingkan bisnis, dan merampingkan biaya,” kata dia.

Tak hanya itu, Ihsan mengatakan ada 400 restoran peniru yang menyajikan ayam goreng di Jeddah. Hal itu menyebabkan tingkat persaingan menjadi semakin sulit.

Tahun 1982, Ihsan dibantu dengan adiknya, Rami, membangun kembali bisnis ayahnya. Meski tak punya latar belakang bisnis, keduanya menjalankan restoran mulai dari nol lagi.

“ Kami harus menemukan sesuatu untuk membuat kami berbeda dengan kompetitor dan kami tahu bahwa hal itu terkait kualitas dan nilai,” kata dia.

Nama restoran pun diubah dari Broast Restaurant menjadi Albaik pada 1986. Dalam bahasa Arab, 'albaik' berarti 'ambil' atau 'pilih'.

Resep Rahasia Ayamnya

Demi mengembangkan bisnis, Ihsan rela terbang ke Paris, Perancis. Sepulangnya dari sana, dia membuat resep andalan dengan 16 jenis rempah dan bumbu rahasia.

Selama tiga tahun, dua bersaudara ini bekerja siang malam untuk menyiapkan resep rahasia di lokasi tersembunyi. Lalu, resep itu dikirim ke dapur pusat untuk pengolahan lebih lanjut.

Kini, restoran punya menu andalan, yaitu spicy chicken, chicken fillet nugget, shrimp. Ada juga kentang goreng dan roti goreng sebagai pelengkap menu. Albaik ini juga punya andalan saus bawang putih yang khas.
Saat ini, Albaik sudah punya cabang di berbagai negara, seperti India, Mesir, dan Amerika Serikat. Untuk program corporate social responsibility (CSR), Albaik juga turut berperan aktif mendukung sejumlah program di bidang pendidikan, pengentasan kemiskinan, sampai kesadaran lingkungan. Restoran ini pun menjadi restoran ayam cepat saji yang paling disukai oleh warga Arab Saudi.
Sumber: Boombastis

Jualan di Toilet Sekolah, Remaja Ini Jadi Jutawan

Dia juga bisa mempekerjakan 11 orang temannya.
Nathan John Baptiste memang masih belia. Umurnya baru 15 tahun. Namun dia sudah menjadi jutawan, menggelindingkan bisnis " kecil-kecilan" dengan omzet jutaan rupiah.


Menurut laman Mirror, sebagaimana dikutip Dream pada Senin 20 Juli 2017, Nathan memulai bisnis ini sejak usia 12 tahun. Bukan menjual properti, tidak pula mobil dengan harga selangit. Omzet itu dia peroleh dengan menjajakan makanan ringan.

Nathan membeli banyak camilan dan menjualnya kembali kepada teman-temannya selama istirahat makan siang di sekolah. Dia bahkan membuat " toko" di toilet dan mempekerjakan teman-temannya untuk menjualkan dagangan.

Bisnis ini berawal saat Nathan membuka jasa titip (jastip) camilan kepada teman-temannya via SnapChat. Awalnya ada 10 orang yang menggunakan jasanya. Camilan yang dibeli itu seperti permen dan cokelat. Ada juga minuman ringan. Bisnis itu tumbuh dan Nathan telah mempekerjakan 11 teman.

Bisnis yang dirintis ini mencatat untung sebesar 1.150 poundsterling atau sekitar Rp20,53 juta per minggu. Sayangnya bisnis ini hanya bertahan 39 minggu karena sekolahnya melarang Nathan berjualan. Selama menekuni bisnis di sekolah, Nathan bisa membukukan pendapatan sebesr 45 ribu poundsterling atau sekitar Rp803,46 juta.

Dia juga menjual kembali sabun di toko-toko di bagian utara London. Dari bisnis ini, dia meraup profit 100 poundsterling atau sekitar Rp1,78 juta perminggu.

Nathan juga suka makan di tempat mewah. Meskipun doyan foya-foya, dia punya pemikiran bagus: tak mau menghamburkan semua uangnya. Dia telah menabung 5 ribu poundsterling atau sekitar Rp89,27 juta. Dia berencana berinvestasi di properti dan saham.

Ternyata, bisnis Nathan terinspirasi dari acara bincang bisnis yang dia ikuti ketika berusia 11 tahun. Remaja ini berkisah bahwa salah satu pebisnis, bernama Carl, memberi tahu seseorang bisa menjadi apa pun yang diinginkan. Kini, sekolahnya ingin menjadikannya sebagai pembicara tentang menjadi seorang wirausahawan.

Sumber : https://www.dream.co.id/dinar/dari-bisnis-kulakan-remaja-ini-sukses-jadi-orang-kaya-1711200.html 

Chairul Tanjung Beberkan Rahasia Sukses

Siapa yang tak kenal dengan Chairul Tanjung? Dengan perusahaan yang dibangunnya, Para Group, pria yang karib disapa dengan panggilan CT ini sukses menjalankan bisnisnya di sektor properti, keuangan, dan multimedia.



Lalu, apa rahasia bisnisnya?

Dalam acara jumpa tokoh di Raimuna Nasional XI 2017, pria berjuluk “ Si Anak Singkong” ini membeberkan rahasia kesuksesannya. Dia mengatakan bahwa orang harus bekerja keras untuk bisa menggapai kesuksesan itu.

“ Sukses itu tidak bisa tiba-tiba. Semuanya membutuhkan proses. Jika orang lain  bekerja keras, maka kita harus dua kali lipat kerja kerasnya. Jika orang lain bekerja cerdas, kita harus dua kali lipat kerja cerdasnya. Jika orang lain belajar 8 jam sehari, kita harus lebih dari 8 jam sehari,” kata CT di Jakarta.

Dia mengatakan, niat sangat penting dalam menggapai kesuksesan. Sang Pencipta, kata dia, tak hanya melihat dari kerja keras dan kerja cerdas, tetapi juga niat bekerja seseorang.

“ Kalau sudah memulai, jangan suka hitung-hitungan. Hasil adalah urusan Tuhan, mekanisme dari Tuhan agar kita selalu berbuat. Urusan hasil, tergantung Tuhan,” kata mantan menteri koordinator perekonomian itu.

Rahasia berikutnya adalah jaringan. Dikatakan bahwa uang bukanlah syarat utama untuk meraih kesuksesan. “ Modal tak harus uang. Kreativitas, inovasi, networking, dan lain-lain lebih penting dari uang,” kata dia.

Sumber : https://www.dream.co.id/dinar/intip-rahasia-sukses-chairul-tanjung-170818l.html

Karena 1 Pesan di FB, Bisnis Tukang Sabun Untung Rp3 M

Seorang ibu rumah tangga bernama Nur Aini Zolkepeli, memulai usaha kosmetik dengan modal kurang dari Rp2 juta. Berkat jerih payahnya, wanita ini meraup untung nyaris Rp3 miliar dari bisnisnya itu.


Dilansir dari Siakap Keli, Selasa 10 Januari 2017, Nur Aini memulai usahanya saat berusia 20 tahun. Modal yang digunakan sebesar 500 ringgit atau Rp1,5 juta. Itu pun merupakan pinjaman dari gaji suami. Rumput laut itu lalu dijual secara online lewat Facebook.

“ Saya melihat Facebook, banyak yang jualan rumput laut. Saya terus membeli tiga bungkus untuk kegunaan sendiri. Alhamdulillah, bagus. Terpikir juga ingin jualan,” kata dia.

Dengan modal seadanya dan tanpa pengetahuan bisnis, Nur Aini pun nekat berjualan rumput laut.
Beberapa bulan, bisnisnya sempat berjaya. Tapi, pada suatu masa, bisnisnya pun berada di bayang-bayang kejatuhan. Pasar rumput laut pun jatuh.

“ Pasar rumput laut jatuh. Ada yang jual 100 ringgit (Rp298.170) per kg, ada yang menjual 25 ringgit (Rp74.542) per kg,” kata dia.

Nur Aini mengatakan, ketika pasar rumput laut jatuh, sempat terlintas di pikirannya untuk membuat sabun rumput laut. Tapi, sayangnya dia terganjal modal untuk memulai bisnis ini. Saat itulah, ada seseorang yang mengajarinya untuk membuat sabun rumput laut.

“ Tiba-tiba Allah datangkan seseorang untuk membantu saya memproduksi sabun. Alhamdulillah, terciptalah sabun Nurraysa,” kata dia.

Bermula dari situ, wanita bercadar ini mulai belajar soal ilmu dagang. Bisnisnya pun berkembang menjadi bisnis kosmetik. Sekadar informasi, Nurraysa tidak hanya memproduksi sabun, tetapi juga produk kecantikan seperti bedak, body wash, dan eyeliner.

Ketika Datang Ujian dari Allah

Saat menjalani bisnis Nurraysa, ujian kembali berdatangan. Ujian ini membuatnya menghentikan bisnis Nurraysa.

“ Bagi saya, terlihat bisnis itu apa, apa yang belum saya buat, apa yang perlu saya buat dari ujian itu,” kata dia.

Nur Aini melanjutkan Allah pun memberikan ujian kepadanya lewat saldo rekening yang kosong melompong.

“ Tuhan ingin memberikan sesuatu yang lebih besar lagi. Saya diuji tak ada uang langsung. Pernah ada uang dalam bank kosong,” kata dia.

Tapi, ada satu cara yang membangkitkan bisnis Nur Aini.

Bisnis Nur Aini Bangkit Berkat Sedekah

Akhirnya, pada Maret 2014, Nur Aini membuat pesan kepada seorang jutawan di Facebook. Dia meminta tips-tips sukses yang dibuatnya. Tapi, sang jutawan itu hanya memberikan satu tips. Apa itu?

“ Katanya, amalkan sedekah setiap hari selama sebulan,” kata dia.

Alhamdulillah, perekonomian Nur Aini berangsur-angsur pulih...tidak sampai dua minggu, bisnisnya kembali cerah. Wanita ini pun mulai menekuni bisnisnya dan mengikuti kursus kewirausahaan. Bisnis Nurraysa pun kembali dihidupkan.

“ Ajaibnya, tidak sampai dua minggu, hidup saya mulai berubah. Allah banyak menunjukkan jalan-jalan, buat apa-apa menjadi mudah. Allah memperkenalkan (saya) dengan orang-orang hebat. Subhanallah,” kata dia.

Kini, berkat ketekunannya, Nur Aini punya 4 ribu agen dan reseller. Mahal, dia sukses mencetak penjualan lebih dari 1 juta ringgit atau Rp2,9 miliar per bulan! Kisah-kisah suksesnya ini pun ramai diberitakan oleh media. Dia pun bisa membuat iklan produk sabunnya di media cetak dan billboard di Malaysia.(Sah)

Sumber : https://www.dream.co.id/dinar/wanita-ini-raup-untung-rp29-miliarbulan-dari-bisnis-kosmetik-1701092.html

Ternyata "Segini" Penghasilan Jualan Rujak

Siang hari setelah selesei aktivitas luar, biasanya saya mampir beli rujak untuk dibawa pulang.

Begitu juga ini tadi, kayaknya panas-panas gini enak kalau nyantap rujak.



Jujur aja saya pengen tau berapa sih penghasilan dari jualan rujak yang hampir setiap sudut kota ada dan semakin bertambah banyak jumlahnya.

Akhirnya mbak yang jual saya ajak ngobrol, tapi nggak mungkin kaaan untuk tahu penghasilannya saya langsung tanya omset perhari berapaa hehe

Setelah basa basi ngobrol, akhirnya saya tanya

"Rata-rata per hari bisa jual berapa bungkus mbak? (cara halus untuk tau omset)"

"Yaah kalau pas panas bisa seratusan bungkus mas, tapi kalau pas ujan gini ya paling 50-80an bungkus"

"Waah rame ya mbak, padahal kalau buah selisih profit nya lumayan juga ya mbak."

"Ya minim 50% mas kalau rujak lotis gini"

Jreeeng jreeeng kalkulator di otak ku langsung jalan, saya beli per bungkus harganya 8000. Kalau sehari ambil contoh aja tengah2 laku 75 bungkus, berarti omset perharinya 600.000.

Dari 600.000 itu margin profitnya 50%, jadi bersihnya beliau bisa dapet 300.000.

Kalau dihitung sebulan 300.000 x 30 hari = 9.000.000

Bayangkan, sebulan penghasilan jualan rujak aja bisa 9.000.000.

Itu penghasilan baru dari satu grobag, pernah saya tau ada yang punya lebih dari satu grobag. Coba dikalikaaan hehehe

Dan kita hari ini masih ada yang ngeluh gimana caranya dapat penghasilan?

Kita hari ini ada yang frustasi bahkan menyerah karena susahnya cari kerjaan?

Sudaaah jualan ajaa, bisa dicontoh itu mbaknya yang jualan rujak.

Beliau masih muda, tapi nggak malu jualaan di pinggir jalan.

Beliau masih muda, tapi nggak malu jualan rujak walau pakai motor tua yang jadi andalan.

Justru yang harusnya malu kita, gengsi aja digedein tapi penghasilan ngga gede2. #eh

Mari instropeksi diri..

Boleh di share jika dirasa manfaat..

By :Deny Ariyanto Wibowo

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10210466901096153&set=a.10200570777939259.1073741825.1453246400&type=3&theater

3 Bisnis Ini Laku Keras dan Diekspor hingga Mancanegara Berkat Kreativitas

Kreativitas seringkali dipandang sebagai hal yang tidak terlalu penting dalam sebuah bisnis. Padahal, justru kreativitaslah yang menjadi pembeda antara satu produk dengan produk lainnya. Dengan sentuhan kreativitas, sebuah produk sederhana dapat diubah menjadi produk dengan nilai jual yang tinggi.

Produk-produk hasil industri kreatif lokal sudah lama mencuri perhatian dunia. Apalagi jika produk itu unik dan jarang ditemukan di tempat lain. Ada begitu banyak produk kreatif lokal yang tak hanya laris manis di dalam negeri, namun juga di luar negeri. Berikut produk lokal asli Indonesia yang telah diekspor hingga mancanegara yang telah dihimpun oleh redaksi indotrading.com (Selasa, 17/1/2017):
  1. Ivan Bestari Sulap Limbah Kaca Jadi Barang Bernilai Jutaan Rupiah
Sebagian orang menganggap bahwa limbah kaca merupakan sampah yang tak berguna. Namun berbeda halnya dengan Ivan Bestari Minar Pradipta. Dengan kreativitas yang dimilikinya, pemuda asli Yogyakarta ini mampu mengubah limbah kaca menjadi benda kerajinan tangan bernilai ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah.
Sejak tahun 2011, Ivan menggeluti bisnis daur ulang limbah kaca yang diberi nama Otakatik Creative Workshop. Awalnya, hal ini dilatarbelakangi karena banyaknya sampah botol serta limbah kaca yang berada di sekitar rumahnya. Limbah kaca itu kemudian diolah menjadi produk kerajinan tangan yang memiliki nilai jual cukup tinggi.


Foto: Ivan Bestari Minar Pradipta, CEO Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop
Foto: Ivan Bestari Minar Pradipta, CEO Otakatik Creative Workshop/ Dok: Otakatik Creative Workshop

“Bagian utama produk terbuat dari 100% limbah kaca, baik itu kaca yang dilelehkan lalu dibentuk ulang, ataupun limbah botol kaca yang kami potong lalu kami beri sentuhan artistik dan desain,” kata Ivan.
Produk buatan Ivan dikenal memiliki nilai artistik yang tinggi serta sangat memperhatikan detail. Hingga saat ini, sudah ada puluhan jenis barang yang berhasil dibuat, misalnya karya seni, hiasan dinding, perhiasan, liontin, anting, gelas, vas, dan lain sebagainya.
Tak hanya diminati pembeli dalam negeri, turis-turis asing pun banyak yang tertarik pada produk-produk Ivan. Produk kerajinan buatan Ivan ini dijual dengan harga yang cukup bervarisi antara Rp30 ribu hingga jutaan rupiah. Salah satu kunci sukses bisnis ialah dengan tidak berhenti berkarya dan menyerah pada hambatan yang ada.
“Terus berkarya dan tidak menyerah pada hambatan,” pungkas Ivan.
  1. Fourspeed Metalwerks: Bisnis Aksesoris Beromzet Ratusan Juta yang Laris di Eropa hingga Amerika
Bisnis aksesoris mungkin terdengar tidak menjanjikan. Namun jangan salah, desain aksesoris yang kreatif dapat membuat sebuah produk banyak dicari orang, bahkan diekspor hingga mancanegara.
Salah satu produk aksesoris yang dibuat dengan sentuhan kreativitas ialah produk Fourspeed Metalwerks. Fourspeed Metalwerks merupakan salah satu industri kreatif asal Bandung yang didirikan sekitar tahun 2005 oleh 4 orang, yaitu Fajar, Hilton, Yudi, dan Mulyana.


Foto: Proses Produksi Fourspeed Metalwerks/ Dok: Fourspeed Metalwerks
Foto: Proses Produksi Fourspeed Metalwerks/ Dok: Fourspeed Metalwerks

“Tahun 2005 menjadi awal perjalanan para pendiri Fourspeed Metalwerks dari sebuah garasi kecil di Bandung. Dilatarbelakangi 4 sekawan yaitu Hilton, Fajar, Yudi dan Mulyana,” kata Fajar.
Fourspeed Metalwerks membuat berbagai macam aksesoris khusus laki-laki seperti cincin, kalung, dan ikat pinggang. Aksesoris buatan mereka memiliki keunikan karena terbuat dari material tembaga, kuningan, perak, dan material lannya serta mayoritas memiliki motif tengkorak.
Tak tanggung-tanggung, pembelinya pun berasal dari kalangan band metal papan atas seperti Sepultura, Madball, dan Metalica. Bahkan, aksesoris buatan Fourspeed Metalwerks sudah diekspor ke berbagai negara seperti Amerika, Inggris, Eropa, Jepang, dan China. Omzet per bulannya pun sudah mencapai ratusan juta.
“Kami sudah ekspor ke Amerika, Inggris, Eropa, Jepang, dan Cina,” pungkas Fajar.
  1. Pernah Jadi Kuli Pasir, Kini Danu Sofwan Sukses Jadi “Radja Cendol” Beromzet 1,5 Miliar
Siapa yang tidak kenal cendol? Cendol merupakan salah satu minuman khas Indonesia yang dapat dengan mudah kita temukan. Namun, beda halnya dengan cendol buatan Danu yang diberi merek Radja Cendol. Tak seperti cendol kebanyakan, cendol buatan Danu ini unik, bahkan bisa mendatangkan omzet hingga milyaran rupiah per bulannya.
Keputusan Danu untuk berbisnis cendol diawali karena tuntutan ekonomi keluarga. Setelah ayahnya meninggal, Danulah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia kemudian memutuskan untuk berjualan cendol karena cendol termasuk salah satu minuman asli Indonesia yang masuk kedalam daftar 50 minuman terlezat di dunia.


Foto: Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol/ Dok: indotrading.com
Foto: Syahputra Kamandanu Sofwan, CEO Radja Cendol/ Dok: indotrading.com

“Ternyata cendol mewakili Indonesia masuk dalam daftar 50 minuman terlezat di dunia via CNN yang mempoling bahwa rendang makanan terlezat di dunia. Jadi Indonesia mewakili dua minuman, es kelapa muda sama cendol. Kok sebegini hebatnya cendol, tapi orang kok malah berbondong-bondong menjual produk luar,” ucap Danu.
Sejak pertama kali diluncurkan sekitar 2,5 tahun yang lalu, Randol mendapatkan sambutan yang positif. Selain kelezatan dan keunikannya, Randol juga banyak diminati karena sehat untuk dikonsumsi.
Namun siapa sangka, untuk bisa menjalankan bisnsinya ini Danu Sofwan harus bekerja ekstra keras. Ia bahkan sempat jadi kuli pengangkut pasir demi bisa mendapatkan modal usahanya.
“Saya kan dulu sempet jadi kuli pasir untuk mengumpulkan modal membuka usaha cendol,” kata Danu.
Tak hanya menjadi kuli pengangkut pasir, pria kelahiran Tasikmalaya, 20 Agustus 1987 ini pun rela menjadi pengamen. Pekerjaan itu ia lakukan selama 8 bulan. Kini, Danu Sofwan pun bisa menikmati hasil jerih payahnya.

Penulis: Erlin Dyah Pratiwi       
Sumber : https://news.indotrading.com/3-bisnis-ini-laku-keras-dan-diekspor-hingga-mancanegara-berkat-kreativitas/

Meski Masih Muda, 4 Pengusaha Sepatu Ini Berhasil Ekspor Sepatu hingga ke Eropa

Menjadi pengusaha sepatu yang sukses memang tidak mudah. Selain kerja keras, dibutuhkan keuletan dan kreativitas yang tinggi. Apalagi, kini persaingan di bidang industri sepatu pun semakin ketat dengan banyaknya pemain baru yang bermunculan.

Sebenarnya, kualitas produk sepatu lokal tidak kalah dengan produk-produk sepatu buatan luar negeri. Terlebih lagi, bahan baku pembuatan sepatu seperti kulit sangat mudah didapatkan di Indonesia. Hal ini mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan jika Anda ingin mencoba terjun ke dalam bisnis sepatu juga.
Kini, semakin banyak produk-produk sepatu buatan Indonesia yang dilirik oleh pasar mancanegara. Buktinya, di tangan beberapa anak muda ini, sepatu lokal Indonesia bisa disulap menjadi produk premium yang sudah diekspor ke Asia hingga Eropa. Siapa saja mereka? Simak ulasan indotrading.com berikut ini, Kamis, (17/11/2016):
  1. Anggun Citra Wulandari (13th Shoes)



Foto: Pemilik usaha 13th Shoes Anggun Citra Wulandari/Dok: indotrading.com
Foto: Pemilik 13th Shoes Anggun Citra Wulandari/Dok: indotrading.com

Sebelum memutuskan untuk berbisnis sepatu, Anggun Citra Wulandari (26) sudah terlebih dulu jatuh cinta dengan alas kaki jenis ini. Wanita yang kini berusia 26 tahun ini bahkan sudah mulai mencoba bisnis sepatu saat berumur 19 tahun. Motivasinya kala itu ialah karena Anggun ingin mencari tambahan uang jajan saat masih kuliah.
“Memulai bisnis ini sebenarnya pada tahun 2009. Awalnya itu pas aku lagi kuliah, masalah utamanya karena kepentok masalah uang jajan sih. Aku mikir gimana caranya dapat uang jajan lebih,” kata Anggun.
Anggun memang hobi mengoleksi sepatu. Suatu hari, ia menemukan toko sepatu di sebuahmall di Kota Bandung yang menjual sepatu-sepatu handmade. Awalnya ia hanya iseng menawarkan sepatu itu ke teman-temannya. Namun ternyata banyak temannya yang suka dengan model sepatu tersebut hingga pesanan pun berdatangan.



Foto: Pemilik 13th Shoes Anggun Citra Wulandari dan contoh produknya/Dok: indotrading.com
Foto: Pemilik 13th Shoes Anggun Citra Wulandari dan contoh produknya/Dok: indotrading.com

Sejak saat itu, Anggun pun fokus pada bisnis ini.Ia kemudian mencari pengrajin sepatu di daerah Cibaduyut yang bisa membuat sepatu sesuai dengan keinginannya. Setelah menemukan yang cocok, ia pun mulai menawarkan produk sepatu yang dijualnya dengan sistem PO (Pre Order) sehingga ia tak mengeluarkan modal sedikit pun. Selain menawarkan ke teman-temannya, Anggun pun menjual sepatu buatannya melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram. Sepatu buatannya ini diberi nama 13th Shoes.
Kualitas jahitan yang bagus, kenyamanan, serta modelnya yang up to date membuat sepatu buatan Anggun ini banyak diminati para kaum hawa. Karena jumlah permintaan yang semakin banyak, Anggun pun mulai membeli mesin cetak sepatu sendiri dan merekrut lebih banyak pengrajin.
Sejak 2011, sepatu buatan Anggun sudah diekspor ke Malaysia dan Singapura. Bahkan, Anggun juga pernah mengekspor sepatu buatannya hingga Kuwait dan Jerman. Dari bisnisnya ini, Anggun mampu mengantongi omzet sekitar 120-an hingga 200-an juta rupiah setiap bulannya.
  1. Nadya Mutia Rahma (Kloom Clogs)



Foto: Pemilik Kloom Clogs, Nadya Mutia Rahma/Dok: indotrading.com
Foto: Pemilik Kloom Clogs, Nadya Mutia Rahma/Dok: indotrading.com

Perjalanan Nadya Mutia Rahma (27) sebagai pengusaha sepatu sukses diawali dari keputusannya untuk pindah sekolah di Jepang saat kelas 2 SMA karena mengikuti ayahnya. Di sana, ia mengambil program bahasa di KAI Japanese Language School di wilayah Tokyo.
Saat itu, Nadya pun berkenalan dengan teman-teman dari berbagai negara, salah satunya Skandinavia. Teman Skandinavianya itu pun sering bercerita tentang kebudayaan dan tradisi menggunakan cloggs atau kelom, sejenis sepatu atau sandal yang beralaskan bahan kayu. Dari sinilah awal ketertarikan Nadya pada kelom mulai muncul.
Saat kembali ke Indonesia pada tahun 2010, Nadya akhirnya memberanikan diri memulai bisnis sepatu sandal buatannya. Dengan bantuan pamannya yang sudah berpengalaman di bidang industri sepatu, Nadya merintis bisnis sepatu sandalnya di Kota Yogyakarta. Tak tanggung-tanggung, keluarga Nadya bahkan rela menjual rumahnya senilai Rp1,2 miliar untuk modal bisnisnya ini.



Foto: Salah satu produk Kloom Clogs karya Nadya Mutia Rahma/Dok: indotrading.com
Foto: Salah satu produk Kloom Clogs karya Nadya Mutia Rahma/Dok: indotrading.com

Setelah berjalan beberapa tahun, sepatu sandal buatan Nadya pun mendapatkan sambutan yang positif dari para konsumen. Selain kenyamanannya, produk sepatu sandal buatan Nadya juga dikenal memiliki model yang unik karena terbuat dari kayu mahoni. Di beberapa model, Nadya bahkan menambahkan aksen-aksen unik seperti ukiran atau batik. Ia pun menamai produk sepatu sandal buatannya ini dengan nama Kloom Clogs.
Berkat keuletannya, kini Kloom Clogs sudah semakin dikenal masyarakat luas. Bahkan, produknya sudah diekspor mulai ke berbagai negara seperti Malaysia, Australia, hingga Swedia. Mengenai omzet, gadis kelahiran Yogyakarta, 12 Juni 1989 ini mengakui dapat mengantongi omzet mulai ratusan juta.
“Sudah ekspor dalam skala kecil dan para reseller yang memasarkan produk sepatu kami dengan brand Kloom. Mereka membawanya ke negara Spanyol, Swedia, Qatar, Australia dan Malaysia,” pungkas Nadya.
  1. Yukka Harlanda (Brodo Footwear)
Berawal dari sulitnya mencari sepatu kulit yang sesuai dengan ukuran kakinya, Yukka Harlanda (28) akhirnya memiliki ide untuk memesan model sepatu sendiri. Ia pun mencari pengrajin sepatu kulit di daerah Cibaduyut, Bandung, Jawa Barat dan memesan beberapa model sepatu sesuai ukuran kakinya.



Foto: Yukka Harlanda, CEO Brodo Footwear/Dok: Pribadi
Foto: Yukka Harlanda, CEO Brodo Footwear/Dok: Pribadi

Karena kualitasnya yang bagus dan modelnya yang unik, Yukka pun mencoba menawarkan sepatu custom tersebut ke beberapa temannya. Ternyata, teman-temannya pun menyukainya dan mulai memesannya pada Yukka. Dari sinilah, Yukka bersama Putera Dwi Karunia akhirnya berniat untuk membuat bisnis sepatu kulit yang diberi nama Brodo Footwear.
“Awalnya karena kaki saya besar kalau cari sepatu harus ukuran 46, susah nyari sepatu. Harus merek luar negeri dan harganya mahal. Terus nyarilah explorasi dan kebetulan punya temen (Putera Dwi Karunia) yang kebetulan ingin punya bisnis ya sudah kemudian digabung deh ide kita,” ungkap Yukka.
Sekitar tahun 2010, Yukka dan Putera pun akhirnya menggelontorkan modal awal Rp7 juta rupiah untuk memesan sepatu lagi. Sejak saat itu, semakin banyak pesanan sepatu kulit yang berdatangan. Akhirnya, pada tahun 2011, Yukka memberikan merek Brodo Footwear untuk produk sepatunya tersebut.



Foto: Produk-Produk Brodo Footwear/Dok: indotrading.com
Foto: Produk-Produk Brodo Footwear/Dok: indotrading.com

Segmen utama sepatu Brodo Footwear adalah kaum pria. Untuk itu, sepatu kuliut Brodo didesain semenarik mungkin dan dibuat dari kulit sapi yang berkualitas. Desain yang dibuat pun terlihat high class. Untuk harga, Yukka mematok sepatu kulit premium ini di kisaran Rp 400 ribu hingga jutaan rupiah.
Hingga kini, Brodo telah memiliki cabang di beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Bekasi, Bandung, Surabaya hingga Makassar dan sudah dipasarkan hingga luar negeri. Produknya pun tak hanya terbatas pada sepatu kulit, tapi juga baju, jaket, sepatu anak hingga dompet untuk pria.
  1. Etnawati Melani (Tegep Boots)
Dulu, mencari sepatu boots lokal yang bagus dan berkualitas bukanlah hal yang mudah. Setidaknya, itulah yang dirasakan oleh Alm. Tegep Octaviansyah, pendiri Tegep Boots yang merupakan suami dari Etnawati Melani. Keresahan inilah yang menjadi latar belakang dimulainya bisnis Tegep Boots.



Foto: Pemilik Usaha Tegep Boots, Etnawati Melani/Dok: indotrading.com
Foto: Pemilik Usaha Tegep Boots, Etnawati Melani/Dok: indotrading.com

“Tegep Boots ini didirikan tahun 1996 berangkat dari hobi suami Tegep Octaviansyah yang sekarang sudah tiada. Dia (Tegep Octaviansyah) itu hobinya naik motor dan kolektor sepatu-sepatu boots. Cuma saat itu sepatu-sepatu boots itu merek luar semua seperti Harley Davidson dan lain-lain. Akhirnya dia mikir ‘gue suka sepatu boots tapi kok susah banget nyari sepatu lokal yang bagus dan pas,” cerita Etnawati.
Sebelum mendirikan Tegep Boots, pria yang gemar mengoleksi sepatu boots itu pernah juga mendirikan sebuah brand bernama Clapman bersama rekan bisnisnya. Modal yang digelontorkan saat itu ialah sebanyak Rp 20 juta rupiah. Namun karena ketidaksamaan visi misi, akhirnya kedua belah pihak memutuskan untuk menjalankan bisnisnya masing-masing.
Setelah itu, Tegep mencoba membuat sepatu boots yang berkualitas dengan desain yang unik namun tetap elegen bernama Tegep Boots. Ia menghabiskan banyak waktu hanya untuk menciptakan desain yang menarik. Usahanya ini ternyata tidak sia-sia. Perlahan-lahan, Tegeb Boots pun semakin dikenal sebagai produk sepatu boots lokal yang memiliki kualitas bagus yang tak kalah dengan produk luar negeri.



Foto: Pemilik usaha Tegep Boots, Etnawati Melani/Dok: indotrading.com
Foto: Pemilik Usaha Tegep Boots, Etnawati Melani/Dok: indotrading.com

Sepeninggal suaminya, bisnis sepatu boots ini pun dilanjutkan oleh Etnawati Melani. Wanita berusia 38 tahun ini pun gencar melakukan berbagai promosi hingga produknya semakin dikenal banyak kalangan. Tak heran jika banyak artis dan pejabat yang menjadi langganan tetap sepatu boots buatannya.
Hingga kini, Tegeb Boots sudah diekspor ke berbagai negara seperti Australia, Amerika, dan Jerman. Setiap bulannya, Etnawati mengaku dapat mengantongi omzet senilai Rp400 hingga Rp500 juta rupiah.
“Iya ada beberapa produk kita yang sudah ekspor itu sepatu. Tapi jumlahnya tidak banyak. Kita ekspor ke Australia, Jerman, Amerika plus ke Hongkong,” pungkas Etnawati.
Penulis: Erlin Dyah Pratiwi
Sumber : https://news.indotrading.com/meski-masih-muda-4-pengusaha-sepatu-ini-berhasil-ekspor-sepatu-hingga-ke-eropa/

Kategori

Kategori