Ditolak 35 Perusahaan, Pria Ini Sukses Rintis Bisnis Rp 13 T

Loading...
Ini kisah tentang semangat yang tak pernah kendur. Lamaran kerja ditolak oleh 35 perusahaan, termasuk perusahaan impian, seorang pria justru membangun perusahaan rintisan (star up) dan sukses terjual US$1 miliar, setara Rp 13 triliun.



Adalah Dan Kan, seorang Co-Founder Cruise Automation,. Dia punya pengalaman pahit dalam kariernya.

Kisah inspiratif ini bermula saat Kan lulus kuliah dari Claremont McKenna College. Dia pun mengirimkan lamaran ke 35 perusahaan. Harapan tinggal mimpi saat surat lamaran Kan hanya direspon dua perusahaan. Semua perusahaan impiannya menolak. 

" Saya ingat jelas ketika saya lulus, saya akan bekerja di bidang keuangan. Saya bayangkan 'Oh inilah jalannya. Semua orang masuk ke industri keuangan dan membuat banyak uang'," kata Kan, saat diwawancarai Entrepreneur, dilansir dari Entrepreneur, Kamis 19 Mei 2016.

Dengan tangan penuh penolakan di industri keuangan, Kan memiliki dua peluang. Mengajar Bahasa Inggris di Korea atau bekerja di sebuah startup bernama UserVoice di San Francisco. UserVoice adalah sebuah platform yang membantu perusahaan mengumpulkan umpan balik pengguna.

" Saya memilih startup," kata Kan.Siapa sangka, jalan yang dipilih Kan menuntunnya menjadi seorang hartawan. Tujuh tahun membangun di perusahaan kecil ini dimana dia menjadi salah satu pendiri Cruise Automation, Kan mendapat untung besar. Startup-nya dibeli General Motors pada Maret lalu sebesar US$1 miliar, sekitar Rp 13 triliun dalam bentuk tunai dan saham.

Jadi bagaimana lulusan perguruan tinggi yang ingin masuk industri keuangan ini, menjadi pendiri salah satu startup terpanas di Silicon Valley?

Jawabannya mungkin sedikit keberuntungan, koneksi yang tepat, berani mengambil risiko dengan penuh perencanaan dan sikap tak mau menyerah.

Kan dibesarkan di sebuah keluarga wirausaha. Ibunya memulai usaha real estate dan broker sendiri di Seattle pada 1990-an. Saat itu, Kan adalah seorang anak berusia sekitar 10 tahun, sebelum Google Maps muncul.

Untuk membantu bisnis ibunya, Kan dan saudara-saudaranya akan memindai dan membuat foto kopi dari buku-buku peta besar, menggabungkannya dan membuatkan rute umah untuk ibunya.

Saudara Kan, Justin, juga seorang entrepreneur. Dia kembali ke San Francisco setelah lulus kuliah dan mendirikan platform video online Justin.tv pada 2006 yang kemudian berubah menjadi Twitch.

Di sepanjang hidupnya, Kan menganggap keluarganya sebagai sumber inspirasi dan dukungan. Bahkan sekarang setelah menjadi jutawan, Kan tetap tinggal bersama saudaranya.

" Saya tidak akan berada di sini tanpa saudara saya atau orang lain di Twitch. Itu mungkin hal yang paling penting. Bukan hanya memiliki ide atau mengeksekusi ide - ini semua tentang hubungan yang Anda miliki dan orang-orang yang Anda kenal dan yang mendukung Anda,” kata dia.

Bukan yang Pertama

Bagi pria berusia 29 tahun ini, jaringan dukungan akan membantu seseorang memulai sebuah startup. Tetapi Anda tidak akan bisa membangun startup bernilai miliaran dolar tanpa punya tekad serius. Untungnya Kan adalah orang yang gigih, bahkan ulet.

" Kan memiliki keberanian yang begitu penting agar sebuah startup menjadi sukses. Orang-orang berpikir startup sebagai bisnis berisiko, itu karena dalam diri mereka ada perasaan takut gagal. 

Namun Kan selalu mengatakan 'Bagaimana jika?' untuk menantang setiap orang untuk membuat pencapaian yang lebih tinggi," kata seorang partnernya di Capital Spark, Nabeel Hyatt.
Setelah beberapa tahun di UserVoice dan didorong oleh kakaknya, Kan memulai startupnya sendiri beberapa kali.

Pertama, pada tahun 2011, Kan meluncurkan Appetizely, sebuah perusahaan yang membuat berbagai macam aplikasi restoran berbasis iOS. Kan berhasil membuat sekitar 30 aplikasi sebelum Apple meminta Appetizely menggabungkan semua aplikasi tersebut ke dalam satu kesatuan.

Kan merasa jika dia tidak membuat aplikasi yang berbeda untuk setiap restoran, maka itu menjadi tidak menarik lagi bagi restoran. Hanya beberapa bulan setelah peluncurannya, Kan menutup Appetizely.

Akhir tahun itu juga, Kan meluncurkan Exec, layanan pribadi on-demand. Pelanggan hampir selalu menggunakan aplikasi Exec untuk pekerjaan rumah tangga. Seperti mencuci piring, membersihkan kolam, mencuci pakaian dan sebagainya.

" Kami memulainya sebagai sebuah layanan yang akan memungkinkan Anda untuk melakukan apa saja. Dengan menekan sebuah tombol, Anda akan memiliki seseorang yang menjalankan tugas atau mencuci pakaian atau apa pun," kata Kan.

Kan pun menyebut lama-lama bisnis Exec menjadi bisnis bersih-bersih rumah. “ Bagi saya, itu bukan yang benar-benar saya sukai,” kata dia.

Pada tahun 2014, ia menjual startup tersebut kepada perusahaan jasa Handy yang berbasis di San Francisco.

Setelah menjual Exec, Kan mencari langkah berikutnya. Dia kenal Kyle Vogt selama bertahun-tahun karena Vogt adalah bagian dari tim Justin.tv dan Twitch yang didirikan Justin Kan. Selama musim panas berikutnya, Kan magang di perusahaan saudaranya.

Vogt terobsesi dengan konsep swa-kemudi sejak ia masih remaja. " Ini adalah gairah yang sebenarnya," kata Kan, yang sangat senang konsep swa-kemudinya mendapat sambutan dari teman-temannya. Maka pada tahun 2014, Vogt bergabung dengan Kan untuk mendirikan Cruise Automation.

Sumber : https://www.dream.co.id/dinar/miliarder-muda-ini-pernah-ditolak-oleh-35-lowongan-pekerjaan-1605188/bukan-yang-pertama-ks7.html
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon