Bob and Me : Membantu dan Menghargai

Loading...
Seorang perempuan tua datang ke tempat kami biasa duduk. Dengan sopan beliau meminta waktu untuk bicara. Di tangannya ada sebuah map blusuh berwarna hijau.
Sang Maestro memperseilahkan duduk, dan perempuan tua itu pun bicara. Saya hanya mengamati, sambil menunggu apa yang akan terjadi.
Map hijau ternyata berisi sebuah proposal sebuah panti. Entah dimana alamatnya. Belum selesai perempuan tua itu bicara, oom langsung menyudahinya. Dengan gerakan tangan, beliau memanggil seorang karyawan kafe berseragam biru muda. Ambilin duit ya, katanya sambil mengacungkan lima jarinya.
Dengan bergegas, sang karyawan pergi dan kemudian kembai dengan membawa selembar uang lima ribuan. Ya. Lima ribuan. Setelah diserahkan, uang itu pun berpindah tangan ke perempuan tua tadi. Saya pun terkaget-kaget. 
Saya pikir, isyarat lima jari tadi, artinya paling tidak lima puuh ribu (atau bisa jadi lima ratus ribu atau bahkan lima juta). Mungkin perempuan tua itu pun menduga hal yang sama. ‘Sekedar ongkos buat pulang ya …’ kata oom.
Tak lama kemudian, perempuan tua itu pun pamit. Saya langsung bertanya, kenapa ‘goceng’? Sebegitu pelitkah beliau?
“Gue tahu isi kepala lu, nyet. Gue pelit kan? Terserah orang lain mau bilang apa. Yang jadi keyakinanku, membantu dengan cara seperti ini bukan membantu yang sebenarnya. 
Ini menjadikan banyak orang malas, karena dengan meminta-minta saja, ia bisa dapat uang. Ini filosofiku. Berilah sekedarnya kepada orang yang meminta, tapi berilah lebih banyak kepada orang yang bekerja.’
Di pojok cafĂ©, tempat kami biasa duduk dan diskusi …
Sumber artikel : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/d65903ed22dd4a9cb4207625f3a8f975?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
Sumber foto : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1942897300240&set=pb.1476691083.-2207520000.1509104856.&type=3&theater
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon