Membeli Pisang Curang dan Pisang Berkah

Loading...
Di suatu hari yang panas. Seorang penjual pisang menyusuri jalanan di kompleks perumahan.


Dua keranjang pisang yang dijual baru laku dua sisir.

Ketika ia mau instirahat di pinggir jalan, seorang ibu gendut memanggilnya.
“Pisangnya bagus enggak bang?”, tanya ibu gendut dengan nada dingin.
“Semuanya bagus bu. Kalau tidak bagus masa ya saya jual.” Jawab tukang pisang dengan ramah.
BU GENDUT DENGAN KASAR MEMBALIK BALIK PISANG YANG ADA DI KERANJANG. Si tukang pisang tentu saja gusar, dagangannya diperlakukan kasar seperti itu. “Wah bu, pelan-pelan saja. Cari pisang apa sih?”
“Kalau pisang ambon ini berapa?” Ibu gendut menunjuk sesisir pisang ambon.
“Yang itu limabelas ribu bu.”
“MAHAL AMAT! DI TOKO YANG KENA PAJAK SAJA CUMA SEPULUH RIBU RUPIAH.” Meski sebenarnya ia tahu bahwa di super maket pisang seperti itu dihargai lima belas ribu rupiah.
“TUJUH RIBU YA BANG?”
“Wah, maaf, belum bisa bu.”
Tiba-tiba muncul Tedy, anak ibu gendut itu, mendekati keranjang pisang. Tanpa ba-bi-bu langsung memotek salah satu pisang dan dilahapnya. MELIHAT HAL ITU SI IBU DIAM SAJA.
Sementara si tukang buah memberanikan diri menegur anak itu. “Lho dik, kok main comot saja!” Lalu menengok ke arah ibu gendut, “putera ibu?”
Si ibu tidak menanggapi pertanyaan si tukang pisang.
“Ibu mau borong pisang kan bu?” Celetuk anak itu sambil terus melahap pisangnya. Lalu meneruskan. “Pisang yang saya makan ini nanti dihitung sekalian pak. Jangan kuatir!”
Ibu gendut yang sejak tadi diam karena agak malu atas tingkah anaknya. “Sudah, pisang ambonnya ini delapan ribu rupiah ya bang.”
“Kalau segitu masih rugi…” Kata si tukang pisang setengah putus asa. Ia kembali mau memikul keranjang pisangnya. Mengiklaskan pisang yang telah dilahap si Tedy.
“Tunggu bang, tunggu”. Ibu gendut itu mengambil dompet dan membukanya, mengambil selembar uang sepuluh ribuan. Disodorkan ke tukang pisang, “Tapi sekalian pisang yang sudah dimakan anakku, ya bang.” kata ibu gendut itu. BILANG BEGITU SAMBIL AMBIL SESISIR PISANG BARU, BUKAN YANG DIPOTEK ANAKNYA..
Si tukang pisang hanya bisa pasrah, lalu terus berjalan memasuki komplek yang lain. Tak lama ia dipanggil oleh seorang ibu.
“Pak, sini pak!” Teriaknya dengan nada sopan.
Si tukang pisang langsung mendekati ibu yang memanggilnya. Ibu itu mengambil sesisir pisang raja-sereh, lalu diacungkan ke tukang pisang. “Ini berapa pak?”
“Itu lima belas ribu bu. Pisang raja-sereh memang mahal bu. Tapi rasanya juga jos bu.” Kata tukang pisang tanpa melebih-lebihkan.
Ibu itu tahu bahwa pisang raja-sereh seperti itu di super market harganya dua puluh ribu rupiah.
Muncul anak perempuan berusia 15 tahun. Ia keluar ingin membanu ibunya memilihkan pisang. Tetapi ketika melihat tukang buah itu kecapean dan kehahusan. Ia kembali masuk rumah. LALU KELUAR LAGI MEMBAWA SEGELAS AIR PUTIH, DISODORKAN KE TUKANG BUAH. “PAK, MINUM DULU PAK, BIAR AGAK SEGERAN,” KATANYA RAMAH.
“Wah terima kasih non…” jawab tukang pisang menerima segelas air putih dan langsung ditenggak habis. Sambil menghela napas lega ia terkekeh.. ”Non baik hati deh, sekali lagi terima kasih ya, non.” Ia mengembalikan gelasnya.
“Baik saya beli raja serehnya satu ya pak..” Ibu itu mengeluarkan uang lima belas ribu rupiah disodorkan ke tukang buah. Tukang buah itu membungkus pisang yang telah dipilih ibu itu. Lalu menyodorkan pisang raja-sereh itu. Ketika menerima uang, pak tukang buah tersenyum tulus, ada rasa bahagia membersit dari lubuk hatinya.
“Terima kasih ya pak. Semoga laris.” Itulah ucapan selamat jalan dari ibu itu. Si tukang pisang, seperti mendapat semangat baru. Ia dengan mantap melangkah lagi, menawarkan dagangannya. “Pisang..! Pisaaanggg!” (Erabaru/Elsa Surya/Alex Sastro)

Sumber " http://www.erabaru.net/2016/07/12/pisang/
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon