Bob anad Me : "Gitar Tua"

Loading...
Salah satu momen tak terlupakan bagi saya adalah ketika saya diminta menjadi moderator bagi sang Maestro di Pesta Wirausaha TDA, 2009. 

Tampil di siang hari, jam-jam dimana orang biasanya mengantuk. Di sisi lain, audiens yang menyemut di ruang utama, tentu berharap mendapatkan banyak ilmu dari beliau.
Saat itu, bukan saat pertama kali saya jadi moderator bagi sang Maestro. Saya selalu ingat pesan beliau. Aku ini gitar tua yang masih lengkap senarnya. Akankah gitar itu akan mengalunkan suara yang merdu atau fals, tergantung pada siapa pemetiknya ...
Alhamdulillah. Tugas jadi ‘pawang’ sang Maestro bisa diselesaikan dengan baik. Beberapa pancingan pertanyaan saya, cukup mampu mengorek ilmu berkategori ‘daging’ keluar dengan bernas. Audiens puas. Sang Maestro puas. Panitia juga puas. Saya, puas sekali.
Tidak banyak orang yang siap jadi moderator bagi beliau. Salah-salah bicara, malah bisa dikerjain dan jadi obyek bully di atas panggung. Dan saya seringkali menjumpai kasus seperti ini di beberapa tempat. Bahkan saya sendiri pun pernah mengalaminya, dan itu jadi pelajaran berharga sekali.
Saat itu, saya lupa tempatnya, kami sudah di atas panggung. Seperti biasa tugas moderator adalah memperkenalkan pembicara. Tapi saya bicara terlalu lama, setidaknya menurut beliau. Pengeras suara yang saat itu juga ada di tangan beliau langsung dipakainya. ‘Nal, pembicaranya gue apa elu?’
Ahaaaaai. Bisa jadi saya bicara terlalu lama. Dan tugas moderator memang bukan jadi pembicara. Jadi, saat itu juga saya sudahi pembicaraan saya, dan mempersilahkan sang Maestro bicara.

Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/68066eb32af64849a3a3dfb06fe71a41?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon