Bob and Me : "Belajar ke Luar Negeri"

Loading...
Penghujung tahun 1999, setahun setelah reformasi, saya mendapat kesempatan untuk belajar kembali ke luar negeri. 

Kali ini di Royal Melbourne Institute of Technology, Australia. Topiknya, Perdagangan Internasional. Sebagaimana biasa, saya tidak keluar biaya sendiri. Departemen Perindustrian dan Perdagangan yang membiayai program ini.
‘Nal. Belajar di luar negeri, tentu kesempatan yang tidak diberikanNya kepada semua orang di negeri ini. Manfaatkan itu, bukan hanya untuk mencari ilmu sekolahan.’ Itu prolog sang Maestro ketika saya hendak pamit, di kediaman beliau, istana 2121 LebakBulus.
‘Ilmu sekolahan di Indonesia juga banyak. Buku-bukunya bisa dipelajari tanpa harus ke luar negeri. Teknologi sudah memungkinkan untuk itu. Yang justru harus banyak kamu pelajari adalah soal-soal non sekolahan,’ lanjut beliau.
‘Misalnya oom?’ tanya saya.
‘Banyak. Utamanya soal disiplin. Etos kerja. Juga toleransi. Di sana kamu jadi minoritas.’ Oom meneguk tehnya. Seperti biasa, saya antusias mendengarkan kelanjutannya.
‘Jangan kebanyakan baca buku di perpustakaan. Itu bisa dilakukan di sini. Banyak-banyak turun ke jalan. Pasar. Cari kawan sebanyak-banyaknya di sana. 
Kalau perlu, kerja kasar di sana juga boleh kok. Jadi tukang cuci piring, buruh bongkar muat. Halal. Intinya, lakukan banyak hal yang tidak bisa dilakukan di sini.’
Terima kasih oom. Petuah oom, saya rasakan di hari-hari belakangan ini, saat saya harus banyak melakukan refleksi. Al-Faatihah.

Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/31de2e925ef847c2b412bca896bd3a75?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon