Bob and Me : "Halal Food"

Loading...
Hari itu, Minggu, 25 September 2011, adalah hari istimewa bagi warga Indonesia di Okayama, Jepang.  Kami :  Sang Maestro, pak Marlock dan saya, manggung bersama di Kurashiki Bidjutsukan.  Ruangan bertipe studio, fullbook.  Bahkan cukup banyak peserta yang harus puas berdiri sepanjang seminar.

Kami menginap di hotel Sheraton Miyako, Tokyo.  Mengingat perjalanan yang cukup jauh dari Tokyo ke Okayama (durasi 4 jam), panitia mengatur jadual seminar usai makan siang, dan selesai pada sore hari sekitar jam 16.00.
Perjalanan kembali dari Okayama ke Tokyo, adalah perjalanan yang melelahkan. Mengingat kondisi fisik sang Maestro yang tidak lagi muda, maka panitia memilihkan moda transportasi kereta api cepat Shinkanzen. Ada beberapa pilihan rute, tapi panitia memilihkan rute Okayama - Tokyo via Shin Osaka. Masa transit cukup lama, sekitar 30 menit sehingga kami tidak perlu tergesa-gesa.
Panitia pun sudah menyiapkan bekal makanan untuk makan malam dengan menu Indonesia. Sayangnya, bekal itu tertinggal di stasiun Shin Osaka. Akhirnya diputuskan untuk makan malam di Tokyo, walaupun diperkirakan tidak banyak restoran yang buka karena kereta api tiba di Tokyo jam 22.10.
Berulang-kali panitia menawarkan makanan dan minuman yang dijajakan di atas kereta api, tetapi sepertinya kami kehilangan selera makan. Apalagi sang Maestro terlihat lelah dan banyak terlelap dalam perjalanan.
Kami tiba di stasiun Tokyo tepat jam 22.10. Masih ada beberapa restoran yang buka. Kami pun masuk ke sebuah gerai yang menjual masakan khas Jepang. Setelah duduk sejenak, kami memilih menu yang tersedia. Oom sudah menentukan pilihan. Beberapa teman seperjalanan pun demikian. Saya masih membolak-balik daftar menu dan menemukan beberapa jenis makanan berbahan daging babi.
‘Duh. Ada menu babinya,’ ungkap saya.
Sontak, oom meletakkan daftar menu di meja lalu mengajak kami semua keluar. Pesanan pun batal. Sambil mencari restoran lain, oom berseloroh.
‘Sebelum lu lihat (daftar menu berbahan babi), gue juga sudah lihat, Nyet. Tapi ini sudah malam. Susah cari warung yang buka. Tadinya, terpaksalah kita makan di situ. Jadi gue diam aja. Lain kali, lu tunggu sampai kita selesai makan ya!’
Dan kami pun tertawa bersama-sama. Beruntung, rejeki anak soleh. Tak jauh dari restoran tadi, ada gerai lain yang menjual menu thailand. Kami semua bersepakat menikmati Tom Yam Gung yang terkenal itu.
Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/ff3082b0a5cb4609b46ad1d8d832516c?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon