Bob and Me : Lebaran

Loading...
Pada sebuah Idul Fitri, jelang milenium. Seperti biasa keluarga kami, shalat Ied di Cinere. Usai shalat, sungkem ke mertua, lanjut dengan menikmati ketupat lebaran bersama. 

Setelah itu bergegas ke Setiabudi, kediaman orang tua saya.
Tahun itu, saya ketambahan orang tua baru. Sang Maestro. Layaknya orang tua, beliau juga perlu disambangi, di hari raya. 
Dan, itu lah saat pertama kami sekeluarga barengan ke rumah 2121 di Lebak Bulus.
Saat di Setiabudi, saya call sang Maestro. Mengucapkan selamat hari raya, lalu minta izin untuk bertandang ke rumah beliau. 
Pertanyaan awalnya, cukup menyentak. Saya sungguh tidak menyangka. Biasanya, orang seperti beliau welcome saja jika akan disambangi. Bahkan, mereka membuat acara open house khusus.
‘Orang tua lu sudah didatangi? Mertua lu sudah didatangi?’ tanya beliau. Belum sempat saya menjawab, suara di seberang sana menyambung lagi.
‘Kalau belum, mereka lebih berhak kamu datangi. Kalau sudah, silahkan ke sini. Kita makan ketupat bareng-bareng. Tante bikin ketupat sayur paling enak se-dunia …’
Dalam pandangan saya, oom tetap menghormati hirarki. Dalam keseharian yang egaliter, beliau tetap memandang pentingnya keberadaan orang tua, dalam situasi hari raya.
Jadilah siang itu kami makan siang bersama, seperti satu keluarga besar. Tabik oom.

Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/425b6c0f38fc473fa961183970ef3aa6?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon