Bob and Me : "Marah"

Loading...
Pesawat Garuda Indonesia yang membawa kami (sang Maestro, pak Marlock dan saya) dari Jakarta, telah mendarat di Narita, Tokyo, Jepang. Menurut rencana, kami akan berada di Jepang selama 5 hari, untuk 2 acara seminar di dua kota, atas undangan satu lembaga sosial Indonesia yang memiliki cabang di sana.

Dua orang staf lokal sudah menunggu kami di bandara, dan langsung membawa kami menuju hotel. Beberapa botol minuman ringan dan makanan kecil menemani kami menuju pusat kota Tokyo. Obrolan menarik sepanjang satu jam perjalanan kami, membuat waktu satu jam terasa begitu cepat.
Hari itu hari Jumat. Masih pagi. Kami landing jam 8 pagi, dan baru bisa lepas dari gate imigrasi di salah satu bandara super sibuk di dunia itu satu jam kemudian. Padahal, waktu check in hotel baru jam 13.00. Sebagai perintang waktu, kami singgah di sebuah café yang nyaman di dekat hotel.
Waktu menunjukkan pukul 10.00 waktu setempat. Masih dua jam sebelum kami bisa check in. Kami memilih menu dan memesan beberapa makanan dan minuman dan melanjutkan pembicaraan, yang lebih didominasi sang Maestro, ikhwal pengalaman beliau di kota ini.
Jam 11.30, dua staf lokal meminta izin untuk melaksanakan shalat Jumat. Saya pun minta izin untuk ikut, dan diizinkan. Dengan satu pesan, jangan lama-lama. Dan kami pun berangkat, meninggalkan sang Maestro dan pak Marlock di kedai kopi.
Saya pikir, shalat Jumat seperti di Indonesia, jam 12.00, dan selesai dalam waktu kurang dari 30 menit. Nyatanya, shalat Jumat di SRIT (Sekolah Republik Indonesia Tokyo) baru mulai jam 13.00 dan selesai sekitar satu jam kemudian. Bergegas kami kembali menuju kedai kopi.
Begitu melihat kami memasuki kedai, saya langsung menyadari. Ada yang tidak biasa. Wajah oom merah, seperti menaham amarah. Dan, baru kali itu saya melihat beliau marah besar. Kami bertiga hanya duduk terdiam, mendengar oom bicara dengan nada tinggi. Beliau merasa diterlantarkan, hampir 3 jam lamanya.
Saat itu juga, kami mohon maaf. Saya yang bicara. Dua staf lokal saya colek kakinya, sebagai isyarat untuk tidak ikut bicara. Tanpa alasan. Hanya minta maaf. Sebagai orang yang kenal dekat, saya tahu persis adat beliau : tidak suka mendengar alasan. Case closed. Selesai, dan sampai akhir hayat beliau, hal itu tidak pernah diungkit kembali. Dua seminar, sesuai rencana, bisa terlaksana dengan baik. Tidak ada imbas akibat kejadian itu.

Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/7718fa2dd8a347ca96146c09428747d2?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon