Bob and Me : "Pedagang Kaki Lima"

Loading...
Tahun-tahun di zaman jebot, saat melintas di ruas jalan Ampera ataupun Antasari, sering kami jumpai 'adegan' para pedagang kaki lima dikejar-kejar petugas Trantib. Truk-truk mereka penuh berisi gerobak hasil 'garukan' di hari itu. 

Di sisi lain, para PKL yang kena 'garuk' menangis tersedu-sedu karena alat pencari rejeki mereka disita. 
Para PKL itu dianggap melanggar peraturan daerah dan mengganggu ketertiban lingkungan karena berdagang di lokasi yang bukan peruntukannya. Ini adalah pemandangan umum di Jakarta saat itu. Aparat hanya bisa menegakkan aturan, tanpa mampu memanusiakan mereka.
Seiring berjalannya waktu, nasib para PKL 'bergantung' pada kebijakan Gubernurnya. Saat ini, fokus tentang PKL adalah tentang rekayasa jalan dan lalu-lintas di wilayah Tanah Abang oleh gubernur dan wakil gubernur baru DKI Jakarta, Anies-Sandi. Semoga saja, yang dilakukan itu bisa meningkatkan harkat, martabat dan kesejahteraan para PKL dan menjadi contoh bagi daerah lain.
'Nal. Para pejabat kita sering melakukan studi banding ke luar negeri, termasuk soal penataan PKL. Tapi entah apa yang dilakukan saat mereka studi banding, dan apa hasilnya?' Sang Maestro menunjuk ke arah PKL yang berlarian menghindari tangkapan petugas.
'Sebenarnya kalau mereka mau serius, cukup datang ke Thailand. Di sana, kondisi PKL mirip Indonesia. 
Bedanya, pemerintahnya concern menata, sehingga secara bertahap, PKL itu bisa naik kelas. Keindahan dan ketertiban wilayah terjaga, tanpa mematikan sumber-sumber ekonomi rakyat kecil. 
Dengan begitu, para petugas Trantib bukan musuh PKL, tetapi justru menjadi kawan yang kehadirannya ditunggu-tunggu. Mereka menertibkan dengan senyum bersahabat, bukan dengan kebengisan wajah dan tangan besi.'

Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/97f80cad0d7a4df29b84f65a8acf8741?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon