Bob and Me : Tukang Becak Jadi Sarjana

Loading...
Dalam banyak seminar di Perguruan Tinggi, sang Maestro seolah tampak 'memusuhi' lembaga pendidikan ini. 

Tak heran, beliau selalu menantang para mahasiswa untuk tidak lagi datang ke kampus esok paginya. 
Dalam persepsi oom, hanya satu fakultas yang masih dianggap ada pada jalan yang benar, yaitu fakultas Kedokteran, karena lulusannya pasti jadi dokter. Biasnya mendekati nol.
Bandingkan dengan lulusan dari fakultas lain. Sarjana Pertanian jadi wartawan. Sarjana Hukum jadi sales. 
Sarjana Peternakan jadi detailman. Rasio penyimpangannya tinggi sekali. Itulah sebabnya, salah satu tayangan presentasi favorit beliau soal ini adalah video tentang seorang sarjana di Jogyakarta yang mencari nafkah sebagai tukang becak. 
Maaf, bukan menganggap profesi ini buruk, atau hina.
Mana lebih baik, sarjana jadi tukang becak, atau tukang becak jadi sarjana? Itu pertanyaan sederhana dari sang Maestro, yang jelas sekali bedanya. 
Tukang becak jadi sarjana, mencerminkan perjuangan seorang anak manusia menuntut ilmu, walau kondisi ekonominya kurang menguntungkan. Cuma setelah wisuda sarjana, berhenti jadi tukang becak. Jangan teruskan profesi itu atas nama passion, panggilan hidup atau konsistensi.
Kalau sarjana jadi tukang becak, itu cermin keputus-asaan seorang anak manusia menaklukkan dunia kerja. 
Perguruan Tinggi gagal mendidik mahasiswanya menjadi tahan banting, berusaha tanpa lelah mendapatkan apa yang dicita-citakan.
Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/c19a47b916b5403ca907944973021b72?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon