Bob and Me : "Amplop"

Loading...
Urusan serah terima fee seminar, ternyata bukan urusan sepele di mata sang Maestro. Saya berulang-kali menyaksikan, beliau menghindar saat panitia atau EO yang amatiran berupaya menyerahkannya secara langsung di tempat terbuka. 
Pun dalam satu brief singkat, Oom mengungkapkan keprihatinannya soal itu.

'Jay. Kadang aku bertanya-tanya dalam hati, apakah orang-orang itu diajari tatakrama, sopan-santun atau etika sama orang tuanya? Atau oleh guru-gurunya?' Saya mendengar nada gusar dalam suaranya.
'Soal amplop Oom?' tanya saya.
'Ya. Bayangin aja. Di depan orang banyak, nyerahkan amplop berisi uang, sungguh tidak sopan lah ...'
'Mestinya bagaimana Oom?' tanya saya lagi. Mungkin ini pertanyaan bodoh. Tentu saja saya harus siap dengan resiko disemprot kalau beliau tidak sedang mood.
'Lu mau mancing Gue marah Nal? Nggak dah. Percuma ngamuk sama Lu. Mental ...' Kami tertawa bersama.
"Nih. Uangnya dimasukkan amplop. Hitung dulu. Jangan kurang. Amplop dimasukkan ke dalam map. Supaya nggak tercecer, amplopnya distaples. Segitu saja, sebenarnya sudah cukup sopan.' Sang Maestro meneguk espressonya.
'Lanjut nih. Kalau mau pakai gaya mafia, mapnya dimasukkan dalam paper bag. Kan enak menyerahkannya. Kalau perlu tanda tangan untuk bukti tanda terima, ya duduklah di kursi. Jangan sambil jalan. Paham?'
"Siap Oom. Nanti kalau ada yang kurang sopan, saya yang ceramahin mereka,' sambut saya sambil menyeruput espresso yang sudah nyaris habis.

Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/8a6e0b7d7e0c46c7a557aa197cca29ad?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon