Bob and Me : "Isi Dompet"

Loading...
Seorang kawan, reporter sekaligus penyiar radio swasta di Jakarta yang memiliki cukup banyak jaringan di Indonesia, meminta saya untuk memfasilitasi diskusi dengan sang Maestro. 

Saya bersedia dengan satu syarat. Topiknya bukan topik yang biasa dibicarakan beliau.
Sebenarnya, tidak sulit meminta wawancara dengan sang Maestro. Asal tahu nomor kontaknya, bisa langsung menghubungi. Sayangnya, beliau punya satu kebiasaan soal mengangkat telepon. 
Kalau nomornya tidak ada dalam memori ponsel, panggilan tidak akan ditanggapi. Nah, kalau wartawan, pasti tahu jurus penangkalnya. Sebelum mengontak, mereka akan mengirim SMS untuk memperkenalkan diri.

Pemilik hak cipta: Zainal Abidin Sidik
Di hari yang ditentukan, kami pun berangkat bersama ke Lebak Bulus. Sang Maestro sudah menunggu di meja makan. Ini memang ruang favorit tempat beliau menerima tamu-tamu yang sudah dianggap dekat.
Hampir dua jam kami hangat berdiskusi. Menjelang akhir, sebelum pamit pulang, sang reporter mengajukan sebuah permintaan yang 'out of the box', yaitu ingin melihat isi dompet sang Maestro.
'Ha ha ha. Gue suka ini. Jay, teman Lu ini pinter. Tanpa konfirmasi, minta sesuatu yang buat banyak orang, mungkin tabu. Tapi buat dia, gue buka ya.' Tentu saja ini sambutan yang tidak saya perkirakan. Saya pikir, beliau akan marah atau setidaknya, menolak permintaan itu.

Pemilik hak cipta: Zainal Abidin Sidik
Sang Maestro bangkit dari duduknya, lalu mengeluarkan dompet agak kumal dari saku belakang celana jeans buntungnya. 'Nih. Buka sendiri,' kata sang Maestro sambil menyerahkan dompetnya kepada kawan saya.
'Maaf oom. Saya buka ya,' katanya sambil mengeluarkan isi dompet satu per satu. Apa saja isinya?
Satu lembar uang pecahan lima puluh ribu, satu Kartu Tanda Penduduk, satu kartu kredit, satu kartu asuransi dan satu buah sisir kecil ...
Sang Maestro mengambil kembali dompetnya setelah isinya dimasukkan kembali. 'Aku nggak perlu bawa uang cash banyak-banyak. Kartu kredit itu unlimited. Soal dompet ini, pesanku satu.' Sang Maestro memasukkan kembali dompet itu ke saku belakang.
'Banyak orang yang belum merdeka karena setiap buka dompet seperti mengupas kulit bawang. Sama-sama bikin nangis ...' Dan kami pun tertawa bersama.

Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/0749d2acfbcf4f9fa640cf32f9b0c528?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon