Bob and Me : "Sakaratul Maut"

Loading...
19 Januari 2015.  Sekitar jam 04.00 dini hari, BlackBerry saya bergetar.  Ada pesan masuk dari GusMar, yang dalam beberapa hari ke belakang memang tidak pulang dari Rumah Sakit Pondok Indah, karena menunggui sang Maestro.
'Denyut nadi semakin rendah.  Sudah 52 per menit,' begitu bunyi pesan BBM.
Sepertinya kondisi sang Maestro semakin memburuk.  Beberapa pekan beliau dalam kondisi koma, tidak sadarkan diri.  
Hanya sesekali tubuhnya memberikan reaksi atas sentuhan atau bisikan dari orang-orang terdekat, baik dengan genggaman lemah atau air mata yang menetes.  Praktis, berbagai alat kedokteran canggih yang terpasang lah yang menunjang kehidupan beliau saat itu.
Setelah insiden foto sang Maestro dalam kondisi yang mengenaskan muncul di sosial media, tamu-tamu yang datang semakin terseleksi.  Hampir tidak ada orang di luar lingkaran keluarga yang bisa masuk sampai ruang perawatan.  
Usai Shubuh, bergegas saya menuju RSPI.  Pamit ke istri, sambil menyebut kondisi terakhir sang Maestro.  Tak sulit bagi saya untuk masuk sampai ruang perawatan.  Hampir seluruh anggota keluarga terdekat, sudah berkumpul di sekeliling tempat tidur beliau.   
Semua wajah terlihat suram.  Suasana sangat hening.   Suara indikator alat-alat kesehatan yang  terdengar, ditimpali suara lirih ayat-ayat suci yang dibaca beberapa anggota keluarga.
Berangsur siang, kondisi tidak juga membaik.  Bahkan denyut nadi semakin menurun intensitasnya.  Beberapa dokter hanya datang dan pergi, tanpa melakukan tindakan apapun, mengingat semua sudah maksimal.
Semakin sore, semakin memburuk.  Denyut nadi semakin melemah.  Indikator dari beberapa alat kedokteran yang terpasang,  suaranya melambat.  Saya lihat beberapa kali GusMar membisikkan suara tahlil ke telinga sang Maestro.  Air mata beliau menetes.
18.05 WIB, RSPI.  Indikator yang semula menyuarakan nada yang semakin lambat, kemudian melengking panjang.  Grafik di layar monitor menampilkan garis mendatar.   Suara mbak Santy, anak bungsu sang Maestro, seperti memecah keheningan.  18.05, adalah tanggal lahirnya, 18 Mei.
Sesaat kemudian tangis pun pecah di ruangan itu.  Terlebih setelah dokter kepala yang memeriksa, memastikan kepergian sang Maestro.  Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.
Dengan seizin keluarga, saya  menyampaikan berita duka ini ke beberapa media yang kerap mengontak saya.  Juga ke beberapa akun sosial media.  Seketika, dunia bisnis Indonesia berduka.  Semoga Allah ridha atas almarhum.

Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/034fd63f578c430e9b583cf616062e93?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon