Bob and Me : "Terus Mengingat, Jaga Shilaturrahmi"

Loading...
Saat kami sedang duduk di beranda Cafetaria Kemchicks, pernah datang seorang laki-laki setengah baya, usia sekitar lima puluhan, dengan pakaian dinas pegawai negeri sipil. 
Pada atributnya tampak logo sebuah departemen pemerintah.
Sang Maestro menyambutnya dengan raut muka cerah. Sang tamu pun begitu hormat. Oom saling memperkenalkan kami. Setelah itu, oom dan tamu ini saling bertukar kabar soal keluarga. 
Selanjutnya, kami pun ngobrol panjang-lebar soal birokrasi. Sekitar satu setengah jam kami berdiskusi dengan ditemani kentang goreng dan kopi espresso.
'Jay. Satu hal yang mesti Lu pelajari dari orang ini,' sang Maestro memulai kuliahnya sore itu, setelah sang tamu pamit.
'Boleh sedikit cerita soal beliau oom?' tanya saya sebelum sang Maestro melanjutkan obrolannya.
'Pernah pada suatu masa. Sudah lama sekali ...' Sang Maestro memandang ke atas, seperti sedang mengakses ingatan yang sudah lama terbenam dalam memori. 
'Aku pernah mengalami kesulitan hidup yang cukup parah. Salah satu orang yang berjasa pada saat itu, mengulurkan tangannya untukku, adalah orang tuanya ...'
'Situasi kemudian berbalik. Kondisi ekonomiku berubah. Tidak perlu cerita soal apa yang Gue kerjakan untuk mereka. Yang pasti sampai sekarang shilaturrahmi kami masih terjaga, walau orang tuanya sudah tiada.'
'Hari ini saya belajar satu hal dari beliau, oom. Soal bagaimana cara menjaga shilaturrahmi. Tapi dari oom saya belajar dua hal. Pertama soal yang sama, menjaga shilaturrahmi. Yang kedua, bagaimana terus mengingat dan membalas jasa orang lain,' simpul saya.
'Kadang-kadang otak Lu encer juga. Ha ha ha ...' Kami tergelak bersama.

Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/6b4717be95c54508876ba3f25e71b066?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon