Kisah Inspiratif dari Bilal, Difabel Pengrajin Topeng asal Banyuwangi

Loading...
Tidak memiliki tangan dan kaki yang sempurna bukan jadi halangan bagi Mustaq Bilal (35) untuk berkarya. Di balik keterbatasan fisiknya, dia mampu menciptakan berbagai topeng kerajinan barong. 
Putra pasangan almarhum Sutaman dan Suniyah ini mengalami cacat sejak lahir. Tangan kanan dan kedua kaki Bilal tidak tumbuh sempurna.

Saat ditemui detikcom di rumahnya Jalan Kuntulan, Karangasem, Kelurahan Bakungan, akhir pekan lalu, Bilal baru saja pulang dari Gontoran untuk membeli kayu. Dia mengaku pembelian bahan, memahat kayu, dan proses mengecat kerajinan barong dikerjakannya sendiri.
"Saya belanja sendiri, mahat sendiri, kecuali kalau ngelem dibantu teman. Kadang-kadang sampai tiga orang dan ibu saya bantu ngamplas," kata Bilal.
Dari tangannya dia bisa membuat topeng barong, jatayu, garuda, macan-macanan dan lain-lainnya dengan berbagai ukuran. Tarif yang dipatoknya bervariasi mulai dari Rp 300 ribu untuk barong berukuran kecil dan Rp 9 juta untuk yang berukuran besar.
"Paling mahal itu barong Bali minimal Rp 9 juta karena lama membuatnya kurang lebih 1 bulan," kisahnya.
Di rumahnya ada satu kamar yang digunakan untuk menyimpan hasil kerajinannya sekaligus properti kelompok Seni Barong Ogoh-Ogoh yang dibentuk oleh keluarganya. Ada barong Bali berukuran sedang, macan-macanan, dan lainnya. Saat ini pun dia tengah mengerjakan pesanan garuda dan kepala barong.
Bilal pun kemudian mempraktikkan keahliannya memahat. Dia mengikatkan sebuah palu di tangan kirinya dibantu dengan gigi dan tangan kirinya. Setelah palu terikat dia pun mengambil alat pahat dan mulai memahat.
Gerakannya lincah dan mantap. Bilal menjelaskan bila ikatan palu di tangan kanannya terasa sakit barulah dia berhenti untuk beristirahat.
"Paling sampai dua jam kalau lama-lama ya tidak kuat karena berat. Kalau sudah begitu ya harus istirahat," katanya.
Bakat memahat anak bungsu dari empat bersaudara ini mulai terlihat sejak usia belia. Sejak SD Bilal mengaku kerap melihat kakak ketiganya mengerjakan kerajinan barong dan dia tertarik untuk belajar.
"Pertama kali lihat kakak yang nomor tiga dan sudah bisa sejak lulus SD. Pertama kali bikin Barong pakai cutter belum alat pahat dan pakai kayu seadanya. Waktu itu iseng-iseng belajar sendiri," katanya.
Rupanya keahlian untuk memahat kayu juga diturunkan almarhum ayahnya yang bekerja sebagai tukang kayu. Meski tidak diajari langsung sejak kecil Bilal kerap memperhatikan ketika ayah dan kakaknya memahat kayu.
"Sayangnya waktu saya bisa bapak sudah meninggal. Waktu ditinggal bapak saya kelas 4 SD dan mulai sering memperhatikan kakak buat kerajinan barong," katanya.
Untuk membantu mobilitasnya dia pun memodifikasi kendaraan yang bisa dioperasikan olehnya. Dia mengaku uang dari hasil kerja kerasnya yang digunakan untuk membeli motor sekaligus memodifikasinya.
"Alhamdulillah dari rejeki bikin barong bisa beli motor bekas kemudian saya modifikasi. Saya desain sendiri kendaraannya kemudian desainnya saya serahkan ke STM untuk memodifikasi," katanya. (inf) 

Sumber : https://www.smartbisnis.co.id/content/read/belajar-bisnis/inspirasi-bisnis/kisah-inspiratif-dari-bilal-difabel-pengrajin-topeng-asal-banyuwangi
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon