Sulap Koran Bekas ala Dluwang Art, Mendulang Untung Hingga Amerika Serikat

Loading...
Siang itu matahari membakar terik Jalan Malioboro, Yogyakarta. Cuaca panas tak menghalangi pedagang souvenir memenuhi ruas jalan di depan ruas pertokoan jalan tersohor itu. Tak  seberapa jauh dari situ, tepatnya di Jalan Ledok Tukangan D2/257, Danurejan, sebuah galeri kecil tegak berdiri.

Namun, ada yang lain dari sebuah rumah yang berada persis di pojokan kamar mandi umum. Dari depan, tampak banyak hasil karya kerajinan berupa tas hingga kaca. Ya, tempat tersebut adalah Dluwang Art. Di sini koran bekas disulap menjadi barang yang memiliki nilai seni.
Dluwang, dalam bahasa Jawa berarti kertas. Kertas adalah bahan yang mudah robek, dan jika terkena air, langsung rusak. Apalagi kalau kertas ini adalah kertas koran yang tipis dan mudah rusak. 
Masuk ke dalam ruangan galeri, almari kayu terbuka berwarna putih langsung menyambut. Keberadaannya hampir memenuhi separuh dinding ruangan yang dicat hijau muda itu. Di dalam almari, belasan tas terlihat terpajang. Juga sandal, miniatur Tugu Yogya, miniatur Menara Eiffel, vespa dan sepeda onthel.
"Dulu sebenarnya iseng berlima dengan teman saya membuat usaha ini waktu kuliah. Namun karena masih dengan ego masing-masing jadinya bubar. Akhirnya tetap saya lanjutin, saya besarin, saya kerjasama dengan pengrajin di Jogja," kata Briane Novianti Syukmina, owner Dluwang Art memulai ceritanya.
Dengan ketelatenannya, rupanya hasil karya tersebut diminati banyak orang. Terlebih wanita 28 tahun itu terus berinovasi. Awalnya hanya membuat tas anyaman, kemudian berkembang membuat sandal, gantungan kunci, hingga cermin berukuran besar. Teknik yang digunakan pun tak lagi anyaman koran, melainkan dikombinasi dengan kain tenun.
"Jadi koran-korannya kami tenun (digabung dengan kain tenun di mesin), biar mempermudah proses produksi. Kalau dulu kan dianyam, produksinya lama dan makan waktu. Karena sekarang pangsa pasarnya udah ada, jadi biar prosesnya cepat kami tenun," jelas alumni UGM kelahiran 6 November 1989 tersebut.
Selain memudahkan proses produksi, teknik ini menghasilkan lembaran yang mudah dipotong dan dibentuk. Penambahkan kain tenun ini untuk mengurangi penggunaan koran yang semakin susah didapatkan.
Dalam pemasaran, galeri yang dijalankan wanita berhijab ini begitu aktif mempromosikan produknya di media sosial. Entah itu lewat dluwangart.blogspot.com, facebook, twitter, instagram, sampai situs jual beli internasional macam alibaba.com.
Rupanya usahanya dalam membuat kerajinan ini cukup memberi dampak positif untuk warga di kampungnya. Dluwang Art menjadi wadah mereka untuk mendapatkan rezeki tambahan. Setidaknya saat ini Novi sudah mempekerjakan 20 orang dari berbagai usia. Salah satu pekerja yang paling tua berusia 70 tahun. Para karyawan dibayar tergantung hasil lintingan koran.
Kegigihan Novi menggeluti usaha kerajinan koran bekas ini menuai hasil luar biasa. Lebih membanggakannya lagi, kerajinan koran yang telah dibangun 7 tahun ini mampu menembus pasar Amerika Serikat. Bahkan perusahaan di Negera Paman Sam ini mengikat kontrak kerja sama selama 3 tahun. Selain itu produk kerajinannya juga dilirik Citibank. Bank swasta ini memborong produk Dluwang Art untuk berbagai event yang digelarnya. (inf)

Sumber : https://www.smartbisnis.co.id/content/read/belajar-bisnis/inspirasi-bisnis/sulap-koran-bekas-ala-dluwang-art-mendulang-untung-hingga-amerika-serikat
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon