Bisnis Payung Johanes Beromzet Rp100 Juta Tiap Bulan

Loading...
Johanes Paulus Pemilik Istana Payung (bertopi merah)
Musim hujan tiba, payung menjadi barang utama yang harus dibawa. Meski menggunakan mobil, payung tetap jadi kebutuhan karena dengannya kita bisa terhindar basah air hujan dari tempat parkir ke gedung tujuan.
Sebenarnya payung juga harus digunakan kala musim panas, karena bisa menjaga kita dari panas terik matahari. Melihat peluang ini, Johanes Paulus menggarapnya lebih serius. Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Bunda Mulia ini memang sudah sejak lama ingin fokus berbisnis. Ia memahami bahwa dalam berbisnis kuncinya selain kerja keras juga fokus dan konsisten di bidang tersebut. Johanes pernah menjajal karitr di industri asuransi dan perbankan sebagai sales, tapi ternyata tidak membuatnya bertahan lama. Keputusannya sudah bulat bahwa ia harus bisnis sendiri.
Maka itu, setelah lulus kuliah ia memutuskan untuk bisnis sendiri. “Saya mulai usaha pada 2008, karena saya punya pengalaman di bisnis payung milik paman. Tida ada salahnya saya masuk ke bisnis yang sama,” kata pria yang hobi bermusik dan sempat memiliki band ini.
Bermodalkan Rp 50 jutaan,  Johanes memberanikan diri membangun usaha sendiri dengan mendirikan Istana Payung. Ia menyewa sebuah toko untuk menjajakan payung-payungnya. Menurutnya, bisnis payung masih memiliki prospek yang cukup bagus. Sebab, Indonesia beriklim tropis, dan bisnis payung sangat bergantung pada cuaca hujan.
“Prospeknya bagus, apalagi kalau musim hujan. Saya satu-satunya toko yang sepanjang tahun hanya menjual payung. Sementara yang lain, ketika masuk musim kemarau, mereka beralih dengan menjual beragam produk lain seperti sandal, buku, petasan, dan lainnya. Saya sih tetap konsisten, kalau pun kemarau, toko sepi itu risiko,” ujarnya.
Namun dengan konsistensi yang dilakukannya, hal tersebut berimbas positif pada perkembangan bisnisnya. Sebab, ia semakin dikenal ke berbagai penjuru sebagai penjual payung yang tak kenal musim. Sehingga, orang dari mana pun, yang mencari payung, tak segan untuk langsung datang ke lokasi tokonya di kawasan Perniagaan Timur, Jakarta Barat.
Menurut Johanes, dirinya menjual antara 80—100 merek payung dari berbagai negara. Modelnya pun lengkap dari payung lipat, payung panjang, payung golf sampai payung mobil. Ia memberikan tips dalam membeli payung, “Yang bagus itu yang rangkanya anti angin. Umumnya yang berbahan fiber lebih baik, karena tidak karat, lebih kuat, dan lebih ringan,” katanya.
Di tokonya, harga payung dijual dari harga Rp 17.500 hingga Rp250 ribu. Dengan pengalamannya di bisnis ini, ia menjadi piawai dalam memilih produk yang berkualitas. Misalnya, ia menjual merek Rosida dan Jope asal Taiwan dan Jerman yang dikenal dengan kualitasnya.
Di musim hujan seperti sekarang, menjadi berkah tersendiri baginya. Sebab, penjualan payung akan melonjak tajam. Ia mengklaim tiap bulan bisa menjual 1.000-10.000 unit payung. Konsumennya pun tersebar di berbagai daerah di Tanah Air, termasuk luar negeri seperti Singapura dan Maldives. “Untuk pasar mancanegara, paling banyak kami kirim ke Maldives. Pasar Singapura juga cukup baik,” imbuhnya.
Sementara untuk menyiasati pasar di musim kemarau, biasanya ia menyasar pasar korporat yang akan membuat payung promosi dan souvenir. Diakuinya, di pasar ini prospeknya juga masih cukup baik. “Untuk payung promosi dan souvenir itu custom, dengan minimal pemesanan sebanyak 10 lusin. Harga paling murah bisa Rp25 ribu per buah dengan logo satu warna,” ujarnya. Dalam catatannya, selama ini pasar terbesarnya masih didominasi oleh para reseller. “Ya, yang paling banyak, mereka beli di kami untuk kemudian dijual kembali,” imbuh dia.
Johanes menyiapkan stok payung hingga 1.000 lusin saat ini. Selain payung, ia juga menyediakan jas hujan yang terdiri dari 3 macam; baju-celana, ponco (kalong), dan mantel buat pejalan kaki. Yang terbaru, bahkan dirinya juga menjual jas hujan plastik sekali pakai. “Harga kami juga bersaing, dari Rp5 ribu sampai Rp200 ribuan,” tukasnya.
Selain pasar offline, kini ia juga tengah mengembangkan untuk membidik pasar onlinemelalui website, media sosial, dan marketplace. “Agar kami tetap bertahan dan dicintai konsumen, kami akan tetap jaga kualitas produk. Nah, terkait kualitas produk, lantaran kami fokus di bidang ini, menjadikan kami lebih tahu barang yang bagus dan warna yang paling disukai oleh konsumen. Dengan fokus menjadikan kami lebih tahu produk yang disukai oleh pasar,” katanya. Dengan fokus dan konsisten pada bisnisnya, hal ini berbuah manis pada omzet yang dibukukannya. Johanes mengungkapkan Istana Payung mampu meraih omzet hingga Rp 100 juta per bulan dengan 10 karyawan.
Editor : Eva Martha Rahayu
Sumber : https://swa.co.id/youngster-inc/bisnis-payung-johanes-beromzet-rp100-juta-tiap-bulan
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon